Ajaran Ki Hajar Dewantara dan Kepanduan

Ajaran Ki Hajar Dewantara dan Kepanduan

Camping pramuka keluarga

Dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puja dan Puji hanya pantas ditujukan kepada Tuhan yang menciptakan dan memelihara alam semesta. Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya diminta untuk menjadi salah satu pembicara dalam kegiatan bedah buku Ki Hajar Dewantara yang diselenggakan oleh komunitas pembelajaran berbasis keluarga Klub Sinau.

Bagi saya, ada kesulitan tersendiri ketika harus ‘membedah’ buku dengan mengungkapkan intisari dengan hanya membacanya tanpa menjadi bagian dari konsep pendidikan itu sendiri. Namun saya menemukan ada kesamaan konsep antara pendidikan Ki Hajar Dewantara dengan konsep pendidikan kepanduan (Scouting) yang dibuat oleh Baden Powel di Inggris. Selain itu, kepramukaan di Indonesia juga mengadopsi sistem amongnya Ki Hajar Dewantara sebagai salah satu metode pelaksanaan pendidikan kepramukaan.

Apakah ada kesamaan konsep pendidikan antara Ki Hajar Dewantara di Indonesia dan Baden Powel di Inggis?

Penjajahan dan kesadaran akan nasib bangsanya. Barangkali dua hal itulah yang membuat keduanya membuat konsep dan menjadikan gerakannya fenomenal di negerinya. Bedanya Baden Powel adalah seorang bagian bangsa penjajah, sedangnya Ki Hajar Dewantara adalah orang yang bangsanya dijajah. Namun dari penjajahan itulah, mereka menemukan nilai yang akan dikembangkan dalam konsep pendidikannya. Dari penjajahan itu pula mereka menemukan kesadaran akan masa depan generasi bangsanya.

Baden powel (BP) adalah seorang tentara Inggris dengan pangkat terakhir letnan jenderal, yang diperintahkan oleh negaranya untuk menjajah di India dan Afrika Selatan. Dari pengalaman-pengalamannya ketika menjajah itulah BP mengkonsep pendidikan kepanduan. Pada saat BP menjajah di Afrika Selatan, beliau menemukan satu suku yang sangat menginspirasinya untuk mendidik generasi muda.

Setiap anak laki-laki, sebelum menjadi dewasa, mereka mendapatkan pendidikan oleh keluarga dan masyarakatnya. Ketika dia sudah remaja, maka dia akan dibuang di tengah hutan dalam suatu masa (waktu). Apabila dia bisa keluar hutan itu dalam suatu masa yang ditentukan dalam keadaan selamat, maka dia akan diterima sebagai bagian dari suku itu. Sedangkan bila dia tidak bisa kembali ke keluarganya dengan selamat, maka suku itu telah terselamatkan dari seorang pemuda yang tidak bermanfaat, seorang pemuda yang lemah, seorang pemuda yang tidak bisa membantu menyelamatkan keluarga dan sukunya, bahkan akan menjadikan beban. Sebelum dibuang, dia diberi tanda warna di tubuhnya, siapa saja yang menemukan pemuda dengan tanda itu boleh membunuhnya. Jadi tidak hanya alam dan binatang buas saja yang mengancam hidupnya. Dia harus bisa survival di hutan, lari dan bersembunyi supaya tidak terlihat orang, sampai dia bisa kembali ke keluarganya dengan selamat.

Suku inilah termasuk salah satu suku di Afrika yang paling sulit dijajah oleh BP, dan saya pun tidak yakin suku ini bisa dijajahnya. BP kagum dengan konsep pendidikan yang dijalankan oleh suku itu, walaupun menurutnya itu tidak humanism. Namun, ketika BP selesai masa penugasannya sebagai penjajah, ketika dia kembali ke negaranya di Inggris sebagai seorang pahlawan, dia menemukan sesuatu yang bertolak belakang di kehiduran remaja atau generasi muda di Inggris. Dia menjumpai banyak kenakalan remaja, perkelahian, meroko, mabuk-mabukan. Mungkin saya itu mirip dengan remaja di Indonesia saat ini.

Dengan pengalaman ketika menjajah, dia membandingkan antara pendidikan anak model sekolahan di Inggris dengan pendidikan alam di negara yang dijajahnya. Dia membandingkan kualitas remaja di negaranya dengan di negara yang dijajahnya, sesuatu yang bertolak belakang. Di negara yang dia anggap sistem pendidikannya modern, ternyata menghasilkan residu yang seperti ini (anak nakal), sementara di pendidikan yang menurut sebagian orang terbelakang, tidak humanism, di alam bisa menghasilkan kualitas unggulan. Kesadaran akan masa depan bangsanya, akan pendidikan generasi muda sebagai pewaris itulah yang menjadi ide BP untuk membuat pendidikan kepanduan. Dengan mengajak 22 orang anak dengan latar belakang berbeda untuk berkemah di pulau Brown Sea pada 25 Juli s.d. 2 Agustus 1907. Dari perkemahan itulah, kemudian lahir konsep kepanduan yang akhirnya menyebar ke seluruh dunia, bahkan di nusantara yang ketika itu sedang dijajah Belanda.

Bagaimana dengan KHD? KHD mempunyai latar belakang yang berbeda dengan BP. Bila BP seorang penjajah, KHD adalah yang dijajah. Namun dari penjajahan itu pula, KHD memiliki kesadaran yang kongruen seperti BP terhadap pewaris bangsanya. Sebagai seorang bangsawan dengan gelar raden mas, KHD mendapatkan akses pendidikan lebih banyak dibandingkan masyarakat pada umumnya. Dia bisa mengikuti pendidikan oleh bangsanya, juga bisa merasakan pendidikan ala penjajahnya.

KHD merasakan kebutuhan masyarakatnya akan pendidikan begitu tinggi, sedangkan kesempatan yang tersedinya nyaris tidak ada. Rangkaian aksi atas kesadaran untuk menjadikan kehidupan bangsanya menjadi lebih baik itulah yang akhirnya membuat dirinya ditahan sampai akhirnya di buang ke Belanda. Ketika di Belanda, KHD bisa melihat lebih dekat konsep pendidikan sekolah bagi anak dan remaja di sana. Kemungkinan besar tidak terlalu berbeda dengan di Inggris, karena masanya yang sama.

Ketika dikembalikan ke negerinya, KHD mempunyai penilaian, bahwa konsep pendidikan sekolah di Belanda bukanlah konsep yang sempurnya, apalagi baik untuk Indonesia. Sangat mungkin, pemikiran yang didapatkan oleh KHD dan BP sama, pendidikan sekolah yang ditemuinya masih kurang, tidak bisa digunakan untuk membentuk kepribadian atau karakter anak. Oleh karena itulah, pada 1928 KHD menulis “Pengajaran harus bersifat kebangsaan …, kalau pengajaran bagi anak-anak tidak berdasarkan kenasionalan, anak-anak tidak mungkin mempunyai rasa cinta bangsa dan makin lama terpisah dengan bangsanya, kemudian barangkali menjadi lawan kita …” Pernyataan itu sangatlah wajar, karena tidak sedikit warga bumiputera yang mendapat pendidikan formal ala Belanda, yang akhirnya bukan menjadi mencintai bangsanya, malah memusuhinya. Barangkali hal itu sama seperti saat ini, banyak orang yang mengolok dan mengumpat bangsanya ketika menemui ketidakpuasan, dan akhirnya bilang “itulah Indonesia …” seorang-olah Indonesia sangat buruk.

KHD tidak menginginkan dasar-dasar pendidikan di Indonesia seperti pendidikan penjajahnya yang harus sesuai perintah, memakai hukuman sebagai pemaksa dan menerapkan ketertiban by design. Pendidikan menurutnya tidak memakai syarat paksaan. Pendidikan dilaksanakan oleh pendidik dengan konsep momong, among, ngemong. Di pramuka mengenal prinsip sukarela dan menggunakan sistem among, mirip dengan konsep dan keinginan KHD.

Hukuman dan aturan adalah satu paket. Tidak akan ada hukuman kalau tidak ada aturan. Membangun kesadaran dengan basis aturan dibandingkan membangun kesadaran berbasis need adalah sesuau yang berbeda. Seberapa banyaknya aturan dibuat, bukannya membuat semakin tertib, tetapi justru mencari celah-celah hukumnya. Pendidikan anak yang berbasiskan aturan, sangat mungkin akan menjadikan dia begitu ketika dewasa. Saat ini banyak kita temui orang-orang yang mencari celah-celah hukum supaya tidak dihukum, bahkan oleh penegak hukum sekalipun. Berusaha mengungkapkan pembenarannya menjadi kebenaran sehingga lolos dari jeratan hukuman. Namun pendidikan yang babasiskan pada nilai tidak seperti itu. Penanaman nilai tentang kejujuran dan pembuatan aturan-aturan supaya tidak bohong barangkali mempunyai tujuan yang sama, tetapi memiliki implikasi yang berbeda. Yang satu akan jujur berdasarkan nilai yang dimiliki dan menjadi need, sedangkan yang satunya supaya sesuai aturan.

Sedangkan ketertiban yang dimaksud KHD tidak sesuai dengan konsep pendidikan di Indonesia adalah ketertiban yang dibangun atas paksaan dan hukuman. Kelas harus tertib, rapi, nurut, sesuai dengan kehendak guru. Dalam pandangan beberapa orang itu menjadi bagus. Pada kegiatan kepramukaan di gugusdepan Klub Sinau yang kita laksanakan setahun terakhir ini, akan mudah kita temukan perbedaan ketertiban dibandingkan dengan kepramukaan di gugusdepan yang berbasis sekolah. Bagi sebagian orang yang lebihan latihan dan perkemahan pramuka HS, mungkin akan mengatakan “pramuka kok nggak tertib …”, tapi bila kita menyelidik lebih dalam, justru lebih banyak nilai-nilai yang mereka dapat. Pramuka HS tertib, namun dengan pengertian yang berbeda dibandingkan pramuka pada umumnya. Konsep KHD ini pun sama seperti konsep BP, bahwa pramuka itu bukan tentara yang harus berbaris rapi, pramuka bukan ilmu yang harus dipelajari dengan tekun – apalagi sampai ada ujiannya, tapi pramuka itu adalah petualangan dan pengalaman.

KHD menegaskan pendidikan model negara penjajah bukanlah yang terbaik untuk Indonesia. Pendidikan yang terbaik bagi anak-anak Indonesia adalah pendidikan yang beralaskan garis hidup dari bangsanya dan ditujukan untuk peri kehidupan yang dapat mengangkat derajat negara dan rakyatnya, agar dapat bekerja bersama-sama dengan bangsa lain untuk kemuliaan semua umat manusia di dunia (KHD, 1930). Pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang nantinya hanya menghasilkan manusia yang akhirnya mengumpat negerinya, tetapi menjadikan manusia yang lebih mencintai negerinya, bangsanya, negaranya, masyarakatnya. Mewujudkan masyarakat yang tata, tertrem, kerta raharja, gemah ripah loh jinawi, menjadikan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang madani.

Leave a Reply

Close Menu