Banalitas Kejahatan

Banalitas Kejahatan

Setelah mendengar cerita adik-adik dewan kerja kemarin, jadi teringat bagaimana Hannah Arendt, seorang filsafat ternama abad keduapuluh mengenalkan istilah banality of evil dalam laporannya di The New Yorker yang berjudul Eichmann in Jerusalam, A Report on the Banality of Evil. Hannah Arent adalah salah seorang yang mengikuti sidangnya Adolf Eichmann, seorang tentara NAZI yang melarikan diri ke Argentina, dan akhirnya ditangkap oleh intel Israel dibawa ke Israel untuk diadili atas kejahatannya secara terbuka.

Dalam persidangan itu Arendt terheran-heran, karena ternyata Eichmann, pelaku kejam kejahatan terhadap kemanusiaan selama perang dunia kedua, adalah orang biasa yang sama sekali tak tampak kejam. Sebaliknya ia adalah perwira militer yang patuh pada pimpinan. Tidak ada tanda-tanda kejahatan di dalam dirinya. Ia menjawab dalam persidangan dengan pernyataan-pernyataan baik yang normatif. Padahal sebelumnya banyak orang menganggap, Eichmann adalah orang yang kejam dan biadab.

Sebagaimana diketahui, kepatuhan di dalam militer adalah suatu keutamaan, bukan kejahatan. Ia tidak akan pernah berkhianat atau bahkan membunuh orang lain demi memuaskan kepentingan pribadinya. Namun, sebagai seorang perwira militer, Eichmann sama sekali tidak sadar tentang akibat dari tindakan patuhnya tersebut. Menurut Arendt, yang kurang dari Eichmann adalah imajinasi.

Dalam pengamatan Arendt di persidangan, Eichmann bukanlah orang bodoh. Yang menjadi “penyakit” utamanya adalah ketidakberpikiran. Tidak berpikir berbeda sama sekali dengan bodoh. Orang bisa saja amat cerdas, namun tak menggunakan kecerdasannya itu secara maksimal untuk berpikir secara menyeluruh, dan berpikir secara sistemik.  Karena tidak berpikir, orang seringkali tak sadar, bahwa tindakannya itu merupakan suatu kejahatan. Maka Arendt berpendapat, salah satu hal mendasar yang dibutuhkan untuk menjadi penjahat brutal adalah ketidakberpikiran.

Itulah yang kemudian disebutnya dengan banality of evil atau banalitas kejahatan. Yaitu suatu situasi, dimana kejahatan tidak lagi dirasa sebagai kejahatan, tetapi sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja, sesuatu yang wajar.

Ketidakberpikiran membuat suatu tindakan menjadi terasa wajar, termasuk tindakan yang mengerikan. Penjahat-penjahal lain seperti Eichmann bukanlah orang jahat atau kejam. Banyak orang menganggap bahwa pelaku kejahatan brutal adalah penjelmaan iblis. Wajahnya pasti sangar. Matanya kejam. Badannya besar. Seperti difigurkan dengan gerombolan Si Berat dalam komik Donald Bebek, yang berbaju garis-garis, memakai tutup mata, berbadan gempal. Namun fakta sekarang tidaklah seperti itu. Sebaliknya penjahat abad ini adalah orang biasa, cerdas, dan patuh. Bahkan tidak ada niat jahat ataupun kejam di dalam dirinya.

Kesimpulan dari Arendt, ketidakberpikiran adalah sisi gelap manusia yang menjadi sumber dari lahirnya kejahatan. Inilah kejahatan khas abad keduapuluh yang tidak pernah ditemukan sebelumnya.

Apakah para pemimpin organisasi itu tidak berfikir tentang apa seharusnya dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan?

Sumber:

  1. https://rumahfilsafat.com/2011/12/26/hannah-arendt-banalitas-kejahatan-dan-situasi-indonesia/

Leave a Reply

Close Menu