Menyembunyikan Kebaikan

Menyembunyikan Kebaikan

Sultan Murad IV adalah Sultan Turki Utsmani yang berkuasa antara 10 September 16239 Februari 1640. Sultan Murad IV terkenal karena mampu memperbaiki kodisi negaranya dengan metode revolusioner-nya. Beliau adalah anak dari Sultan Ahmed I dan Sultan Kosem yang berdarah Yunani.

Murad IV bertahta pada tanggal 10 September 1623, menggantikan pamannya Mustafa I ketika berusia 11 tahun. Beliau mencoba memberantas korupsi yang telah berkembang semasa pemerintahan sultan terdahulu. Reformasi dilakukannya dengan mengubah sejumlah kebijakan, seperti efisiensi anggaran negara. Beliau juga melarang alkohol, kopi, dan tembakau, hukuman mati dijatuhkan pada mereka yang melanggar aturan ini. Beliau sering blusukan, menyamar sebagai rakyat berjalan di kampong-kampung di seluruh Istanbul pada malam hari. Langsung mengeksekusi temuannya pada saat itu dan ditempat itu juga.

Konon, pada masa pemerintahan Murad IV inilah terjadi suatu kisah yang mempopulerkan nilai-nilai Islam untuk menyembunyikan kebaikan, seperti halnya menyembunyikan keburukan. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Barang siapa diantara kalian yang mampu untuk memiliki amal sholeh yang tersembunyikan maka lakukanlah!” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no 2313).

Dikisahkan, pada suatu malam sang sultan merasakan kekalutan hatinya. Beliau merasa cemas, tanpa tahu apa sebabnya. Lalu beliau memanggil ‘Komandan Paspampres’nya dan mengajaknya keluar untuk blusukan. Setelah berjalan lama tibalah mereka di lorong yg sempit. Mereka menemukan pria tergeletak di atas tanah dan telah meninggal. Namun tak ada orang yang mempedulikannya. Dalam kisah yang lain, mayat ditemukan di tengah hutan dalam kondisi sudah berbau.

Sultan bertanya kepada penduduk, mengapa orang ini meninggal tapi tidak ada satu pun yang mengangkat jenazahnya. Sebagian dari penduduk itu menjawab dia adalah pemabuk dan pezina, dia adalah orang yang suka minum-minuman keras dan pelanggan prostitusi.

Sultan yang sedang dalam penyamaran pada agenda blusukannya ini akhirnya mengajak sebagian penduduk untuk mengangkat dan mengantarkan jenazah itu ke rumahnya. Sesampainya di rumah, sang istri menangis dan berucap “semoga Alloh merahmatimu wahai wali Alloh, aku bersaksi bahwa engkau orang yang sholeh”.

Spontan ucapan istri itu membuat Sultan Murad IV kaget. Bagaimana mungkin seorang pemabuk dan pezina menjadi wali Alloh. Bagaimana sang istri sangat yakin suaminya wali Alloh, padahal semua penduduk mengatakan dia suka minum muniman keras dan sering berkunjung ke tempat prostitusi, sampai tidak ada seorangpun yang peduli dengan kematiannya.

Dengan tenang sang istri menjawab pertanyaan orang asing yang mengantar jenazah suaminya. Dia sangat mengkhawatirkan dan sudah menduga situasi ini akan terjadi nanti ketika suaminya mati. Diceritakanlah bahwa setiap malam suaminya membeli minuman keras dari para penjual sejauh yang ia mampu. Kemudian minuman-minuman itu dibawa ke rumah dan ditumpahkannya ke toilet, sambil berkata “Aku meringankan dosa kaum muslimin”.

Di malam yang lain dia juga pergi ke lokalisasi, menemui pelacur, mem-booking­nya dan berkata “Malam ini kalian dlm bayaranku, jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi”. Sesampai di rumah dia berkata kepadaku “Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu dan pemuda-pemuda Islam”.

Orang-orang hanya menyaksikan suamiku selalu membeli membeli minum-minuman keras dan menemui pelacur di tempatnya. Mereka menuduhnya dengan sebagai pemabuk dan pezina.

Sang istri juga menceritakan, bahwa pernanh mengingatkan suaminya “Kalau kamu mati nanti, tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu”

Suaminya hanya tertawa dan berkata “Jangan takut, bila aku mati, aku akan disholati oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Auliya”.

Maka, Sultan Murad II pun menangis, dan berkata “Benar! Demi Alloh, akulah Sultan Murad, sultannya kaum muslimin, besok pagi kita akan memandikannya, mensholatinya dan menguburkannya”. Akhirnya prosesi jenazah pria itu dihadiri oleh Sultan, ulama, dan seluruh masyarakat.

Pelajaran dari kisah ini:

  1. Pada masa itu penjualan minuman keras juga ada, namun penjualannya terbatas. Mungkin dibatasi tempat penjualan dan jumlahnya.
  2. Pada masa itu prostitusi juga ada, namun dilokalisasi tempatnya dan dibatasi waktu beroperasinya.
  3. Melakukan kebaikan walaupun kecil dampaknya tetap saja sebagai kebaikan. Yang dilakukannya tidak mungkin menghilangkan kebatilan, tetapi membantu mengurangi kebatilan terjadi.
  4. Yang tampak belum tentu yang sesungguhnya. Perlu mencari informasi yang lengkap untuk memahami fenomena yang terjadi. Jangan cepat menghakimi.
  5. Saran untuk menyembunyikan kebaikan sebagaimana menyembunyikan keburukan, bukan pembenar seseorang melakukan keburukan dan menyembunyikannya. Karena ajaran Nabi Muhammad SAW “Barang siapa diantara kalian yang mampu untuk memiliki amal sholeh yang tersembunyikan maka lakukanlah”.

Sumber:

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Murad_IV
  2. http://www.fotodakwah.com/2016/04/sembunyikanlah-kebaikanmu-sebagaimana.html
  3. http://www.muradmaulana.com/2014/12/kisah-sultan-murad-iv-dan-mayat-di-hutan.html

Leave a Reply

Close Menu