Pahlawan, Pemberontak, dan Pecundang (Refleksi Hari Pahlawan 2016)

Pahlawan, Pemberontak, dan Pecundang (Refleksi Hari Pahlawan 2016)

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia-online (KBBI), pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran atau seorang pejuang yang gagah berani. Sementara pemberontak adalah orang yang melawan atau menentang kekuasaan yang sah atau orang yang sifatnya suka memberontak (melawan). Sedangkan kata pecundang berasal dari kata cundang yang mendapat awalan pe- yang artinya adalah orang yang menghasut. Menurut Wiktionary pecundang juga bisa berarti orang yang menipu. Kalau dicari padanan katanya, pecundang bisa diartikan dengan loser (google translate), a person or thing that loses or has lost something, terjemahan bebasnya adalah orang yang kalah. Jadi pecundang bisa diartikan sebagai: (1) orang yang menghasut, (2) orang yang menipu, atau (3) orang yang kalah.

Lalu, adakah kaitannya antara pahlawan, pemberontak dan pecundang?

Hari ini 71 tahun yang lalu, di Surabaya terjadi pertempuran hebat dan tidak seimbang antara rakyat Surabaya dan sebagian kecil tentara Republik Indonesia yang belum genap 3 bulan merdeka, melawan tentara Sekutu-Inggris pemenang perang Dunia Kedua. Pertempuran yang merupakan pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah revolusi nasional Indonesia ini pun akhirnya dimenangkan oleh Indonesia. Pertempuran pertama Republik Indonesia dengan pasukan asing ini bisa dimenangkan karena sebelumya ada seruan atau resolusi jihad dari para ulama di Surabaya pula (22 Oktober 1945).

Pertempuran hebat 10 November 1945 diawali dengan tewasnya Brigjen Mallaby di kawasan Jembatan Merah Surabaya. Pertempuran luar biasa antara pejuang Indonesia di Surabaya melawan 4th Indian Field Regiment; 5th Indian Field Regiment; 24th Indian Mountain Regiment; 5th Mahratta Anti Tank Regiment. 17th Dogra Machine Gun Battalion; 1/3rd Madras Regiment (HQ Battalion); 3/9th Jat Regiment (reconnaissance battalion) di bawah komando Brigjen Roger Guy Loder Symonds pun akhirnya menewaskan komandannya keesokan hari (11 November 1945).

Padahal bersama dengan pasukan Brigjen Symonds yang tewas itu, ada:

  • 9th Indian Infantry Brigade; 2nd West Yorkshire Regiment; 3/2nd Punjab Regiment dan 1st Burma Regiment dibawa komando Brigjen HGL Brain.
  • 123rd Indian Infantry Brigade; 2/1st Punjab Regiment; I/17th Dogra Regiment, serta 3/9th Gurkha Rifles dibawah komando Brigjen EJ Denholm Young.
  • 161st Indian Infantery Brigade; I/1st Punjab Regiment; 4/7th Rajpur Regiment dan 3/4th Gurkha Rifles dibawah komando Brigjen EHW Grimshaw.

Ditambah lagi alutsista terbaik perang dunia kedua: fregat HMS Loch Gorm dan Loch Glendhu, kapal penjelajah HMS Sussex, tiga kapal terpedo HMS Carron, Caesar, dan Cavalier, kapal pengangkut pasukan HMS Gleen Roy, Princess Beatrix, Waveny, SS Bapeta, Pulasti, Malika, dan Floristan; serta empat Landing Ship Tank (LST) dan empat Landing Craft Tank (LCT).

Walaupun dengan persenjataan satu skuadron tank ringan, bren carrier, dan 20 tank Sherman, didukung oleh artileri berat dengan meriam 23 pound dan howitzer 3-7. Ditambah dengan bantuan tembakan meriam kapal yang lego jangkar di Tanjung Perak, belum lagi kekuatan intai dan serangan udara dari skadron pesawat Mosquito dan thunderbolt yang membawa bom seberat 500 pound, pasukan Inggris akhirnya kalah dengan pejuang Republik Indonesia yang bersenjatakan bambu runcing.

Menurut cak Lontong, komedian, sebenarnya pasukan Indonesia bisa menang lebih cepat kalau tidak menggunakan bambu runcing. Dalam stand-up comedy-nya dia bilang, “untuk membuat bambu runcing harus menggunakan parang atau golok. Mencari, memotong, kemudian meruncingkan. Itu butuh waktu. Kenapa tidak langsung pakai parang dan golok saja. Pasti bisa menghemat waktu” 😀

Akhirnya pasukan Inggris mengibarkan bendera putih dan meminta bantuan pimpinan Republik Indonesia untuk menghentikan peperangan, padahal sebenarnya mereka sedang kehabisan logistik. Itulah hebatnya jenderal Inggris, mampu membaca dan menciptakan peluang. Walaupun sudah di depan mata akan kalah, tapi masih bisa menulis sejarah yang berbeda.

Kembali pada pemaknaan kata pahlawan, pemberontak, dan pecundang. Para rakyat Indonesia yang ada di Surabaya dengan sebagian kecil tentaranya telah menjadi pahlawan bagi bangsa dan Republik Indonesia. Karena nekat, usaha, dan pengorbanannyalah kemerdekaan Indonesia masih berlanjut hingga kini.

Karena di pertempuran Surabaya 1945 pejuang Indonesia menang, dan sampai sekarang pun Indonesia tetap merdeka, maka para pejuang itu mendapat sebutan pahlawan. Sehingga 10 November dinobatkan oleh Presiden Sukarno sebagai Hari Pahlawan.

Akan berbeda ceritanya kalau di pertempuran Surabaya 1945 mereka kalah dan sampai sekarang Indonesia masih terjajah. Kepada para pahlawan itu akan dicap sebagai pemberontak.

Sama dengan nasibnya Pangeran Diponegoro yang dicap pemberontak oleh Pemerintah Hindia Belanda pada masa itu. Namun sekarang beliau adalah Pahlawan Indonesia. Karena yang diperjuangkan beliau menang, dan karenanya Indonesia menjadi ada dan merdeka.

Jadi pemaknaan pahlawan dan pemberontak tergantung sudut pandang dan situasinya. Dilihat dari sudut pandang, Pangeran Diponegoro adalah pahlawan bagi bangsanya, sekaligus sebagai pemberontak bagi pemerintah pada saat itu. Sedangkan dari situasi, akan menjadi pahlawan apabila kepentingan yang diperjuangkan menang. Namun akan dicap sebagai pemberontak apabila kepentingan yang diperjuangkan kalah dengan kelompok lainnya.

Tapi yang jelas, antara pahlawan dan pemberontak memiliki ciri kesamaan: (1) berani; (2) berkorban; (3) ada usaha membela kebenaran yang diyakininya; (4) melawan/menentang kebatilan; (5) berhadap-hadapan secara jelas, memposisikan dirinya secara jelas, tidak ambigu, tidak mem-bunglon, tidak munafik, tidak ‘berdiri di dua sisi’; (6) yang pasti melakukan perlawanan, tidak diam mencari selamatnya sendiri, atau hanya membatin saja; dan (7) memiliki tujuan mulia yang bisa diwariskan ke penerusnya dengan bangga.

Apabila mau mencari pembanding, rakyat Indian dan rakyat Aborigin tidak memiliki “pahlawan”. Karena mereka kalah dengan orang asing. Negara yang mereka perjuangkan tidak kunjung ada sampai sekarang. Mereka gagal mandaulatkan kemerdekaannya sebagai bangsa dan Negara, sehingga terbentuklah USA dan Australia. Kalau Palestina, mereka sedang dalam proses penulisan sejarah kepahlawanannya.

Lalu, bagaimana dengan pecundang? Tentu saja pecundang tidak memiliki ciri-ciri tersebut. Dalam pertempuran Surabaya 1945 adakah pecundang? Bagaimanakah ciri-ciri mereka.

Tentu saja tidak bisa membayangkan situasi November 1945 di Surabaya dengan gambaran situasi saat ini. Sekarang akan sangat mudah membedakan siapa pahlawan dan siapa pecundangnya, karena sudah diketahui siapa pemenangnya. Sudah terlewati dan sudah jelas semua. Harus membayangkan realitas sosial dan fakta sejarah yang terjadi saat itu dan menyandingkan dengan realitas sosial saat ini untuk memahaminya.

Pasti ada pro-kontra di pertempuran Surabaya 1945. Pasti ada saja orang-orang pribumi yang lebih memilih membela penjajah. Ditinjau dari kekuatan angkatan perang, tentara dan pejuang Indonesia sangat tidak sebanding dengan tentara Sekutu-Inggris. Sehingga masuk akal apabila ada orang-orang yang tidak percaya Indonesia akan tetap merdeka. Masuk akal pula kalau orang-orang itu lebih memilih membantu orang asing (penjajah) daripada membantu perjuangan saudara sebangsanya. Kepada orang-orang jenis itu, pejuang Indonesia menyebutnya pemberontak. Mereka dijuluki pemberontak oleh teman sebangsanya, namun tidak oleh sekawannya (orang asing penjajah).

Terhadap orang-orang yang lebih membela kepentingan orang asing (penjajah) itu, bisa dikelompokkan menjadi dua. Kelompok pertama adalah orang-orang yang secara jelas dan nyata membela sekutu-penjajah. Pejuang kita menyebutnya antek Belanda. Terhadap kelompok ini, cirinya sama dengan pejuang/pemberontak di atas, jelas statusnya. Hanya masalah waktu saja untuk mendeklarasikan sebagai pahlawan atau pemberontak.

Kelompok kedua adalah kelompok yang tidak terdeteksi. Terhadap saudara sebangsa menjadi kawan, dipihak musuh-penjajah pun menjadi kawan dekat. Sebagian dari mereka kepada pejuang Indonesia terlihat membantu, namun bersamaan dengan itu mendukung berlangsungnya penjajahan.

Mereka berusaha mencari selamat. Berdiri di dua “kaki”. Apabila pejuang Indonesia menang, mereka juga turut memproklamirkan diri turut serta perjuangan. Syukur-syukur bisa menjadi pahlawan. Pahlawan kesiangan J Namun apabila orang asing menang, tentu mereka tetap nyaman dengan kepentingan-kepentingan yang telah dimiliki dan berharap akan bertambah lagi. Kepada kelompok kedua inilah disematkan label pecundang.

Kalau dicari ciri-cirinya, maka kurang lebih begini: (1) pengecut, tidak berani; (2) tidak berkorban, kalaupun berkorban maka dengan perhitungan yang matang; (3) membela kepentingannya; (4) tidak peduli dengan kebatilan; (5) mengikuti arus, dekat dan baik dengan semua, ambigu, mem-bunglon, munafik, ‘berdiri di dua sisi’; (6) tidak melawan, diam, dan mencari selamatnya sendiri; dan (7) tidak bertujuan mulia, malu ketahuan oleh penerusnya.

Maka kepada mereka tidak salah kalau KBBI Online dan Wiktionary mengartikan sebagai orang yang menghasut, orang yang menipu, dan orang yang kalah.

Mau menjadi pahlawan, pemberontak, atau pecundang adalah pilihan. Terhadap pilihan itulan manusia akan bertanggung jawab kepada penciptanya.

Daftar Pustaka:

  1. http://triehartanto.blogspot.co.id/2011/12/misteri-kematian-dua-jenderal-di.html
  2. http://intisari-online.com/Unique/Others/10-Fakta-Yang-Belum-Terceritakan-Dari-Pertempuran-Surabaya-10-November-1945
  3. https://www.facebook.com/notes/muhammad-karim/resolusi-jihad-nu-dan-pidato-bung-tomo-10-nopember-di-surabaya/10150456281774416/
  4. http://kbbi.web.id/pahlawan
  5. http://kbbi.web.id/berontak
  6. http://kbbi.web.id/cundang-2
  7. https://id.wiktionary.org/wiki/pecundang

Leave a Reply

Close Menu