Peran Pendidikan Kepramukaan Dalam  Pengembangan Modal Sosial

Peran Pendidikan Kepramukaan Dalam Pengembangan Modal Sosial

Berawal dari Masalah Remaja

Akhir-akhir ini fenomena kenakalan remaja makin meluas. Walaupun hal ini sudah terjadi sejak dulu. Para pakar-pakar hukum, psikologi, pakar agama dan lain sebagainya selalu mengupas masalah yang tak pernah habis-habisnya ini. Kenakalan Remaja, seperti sebuah lingkaran hitam yang tak pernah putus, sambung menyambung dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, dari tahun ke tahun dan bahkan dari hari ke hari semakin rumit.

Masalah kenalan remaja merupakan masalah yang kompleks terjadi di berbagai kota di Indonesia. Sejalan dengan arus globalisasi dan teknologi yang semakin berkembang, arus informasi yang semakin mudah diakses serta gaya hidup modernisasi, disamping memudahkan dalam mengetahui berbagai informasi di berbagai media, di sisi lain juga membawa suatu dampak negatif yang cukup meluas di berbagai lapisan masyarakat.

Kenakalan remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat, dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat. Secara psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya. Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi lingkungannya, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri. Namun pada kenyataanya orang cenderung langsung menyalahkan, menghakimi, bahkan menghukum pelaku kenakalan remaja tanpa mencari penyebab, latar belakang dari perilakunya tersebut.

Dewasa Tidak Jauh Beda

Masalah sosial tersebut tidak hanya menimpa pada golongan remaja. Hilangnya kepercayaan antar sesama komponen bangsa juga melanda Indonesia. Banyak komentar masyakarat tentang elit politik yang tidak bisa dipercaya. Partai yang jargonnya jujur dan bersih terlibat kasus korupsi, partai penguasa juga tidak ada bedanya. Mereka hanya mementingkan diri sendiri dan kepentingan mereka. KPU menetapkan persentase pemilih yang enggan menggunakan hak pilihnya pada pemilihan umum legislatif 2014, tingkat ‘golongan putih’ pemilu tahun 2014 hampir menyentuh angka 25 persen. Tingkat partisipasi pemilih 75,11 persen. Sementara yang tidak menggunakan hak pilihnya mencapai 24,89 persen.

Pada aspek yang lain, sesama elit politik dan pemerintahan sering kali terjadi saling serang pendapat yang membingungkan masyarakat awam. Kebijakan yang telah berdasarkan kajian ilmiah dikritik dan dicerca oleh lawan politik. Sementara lawan politik pada saat berkuasa juga melakukan hal serupa.

Konflik berdarah antar kelompok seperti pertikaian yang mengatasnamakan agama seperti terjadi di Sampang, konflik antar pendukung calon legislatif, dll. Kementerian Sosial memetakan ada 184 daerah di Indonesia yang rawan terjadi konflik sosial karena kondisi ekonomi yang tertinggal, enam di antaranya diprediksi paling rawan pada 2014, yaitu: Papua, Jawa Barat, Jakarta, Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, dan Jawa Tengah. Selain itu banyak permasalahan sosial yang bersifat patologis yang menghinggapi kehidupan masyarakat seperti meningkatnya angka kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, premanisme, dan lain-lain.

Krisis dan Sumbangan Pembangunan

Beberapa pakar berpendapat, bahwa Indonesia telah mengalami krisis multidimensi. Seolah-olah sudah kehilangan perekat yang dapat mempersatukan seluruh warganya. Sebagian lagi berpendapat sudah kehilangan modal untuk melepaskan diri dari kemelut kehidupan.

Diantara penyebab timbulnya bermacam-macam patologi sosial tersebut adalah orientasi pembangunan Indonesia yang selalu menekankan pada pertumbuhan (growth) bukan pada pendistribusian hasil pembangunan dengan adil dan merata. Wachtel berpendapat bahwa orientasi ekonomi yang mengacu pada pertumbuhan telah menumbuhkan mental pertumbuhan yang mebuat orang mengakumulasi materi sebanyak-banyaknya, dengan tidak memperdulikan orang lain yang sangat membutuhkan materi tersebut tetapi tidak memperolehnya. Pola pokir masyarakatnya berubah untuk mengejar dan mengakumulasi materi sebanyak-banyaknya, karena meyakini bahwa materi yang banyak akan memberikan kepuasan hidup. Kondidi demikian ini membuat orang semakin berorientasi pada dirinya sendiri, dan kurang memperhatikan kesejahteraan orang lain. Menjadi individualis.

 Sumbangan Pendidikan

Penyebab lainnya adalah pengembangan pendidikan yang lebih menekankan pada aspek kognitif. Untuk menopang kehidupan masyarakat dalam suatu sistem ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan, diperlukan sumberdaya manusia yang cocok untuk orientasi itu. Maka orientasi pendidikan di Indonesia ditekankan pada pengembangan kompetensi dengan fokus yang sangat dominan pada pengembangan aspek kognitif. Pendidikan di Indonesia didesain dan dikembangkan untuk membangun manusia Indonesia yang memiliki daya saing tinggi. Akhirnya lebih berfokus pada pengusaan ilmu dan teknologi, sehingga mengabaikan aspek pengembangan karakter. Dengan fokus tersebut, pendidikan formal di Indonesia menekankan pada peningkatan kemampuan kognitif. Waktu untuk pengembangan karakter manusia yang kondusif untuk dapat hidup bersama secara damai kurang mendapatkan perhatian.

Padahal tujuan pendidikan nasional sendiri seperti yang tercantum dalam UU No. 20, Tahun 2003 pasal 3 tentang pendidikan disebutkan, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dari penjelasan UU tadi dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan tidak hanya untuk mencerdaskan bangsa tapi juga untuk membentuk manusia yang bermartabat. Tapi dalam kenyataannya perilaku brutal dan anarkis yang dilakukan oleh para pelajar dan mahasiswa masih saja sulit dihindari. Masalah ini kemudian menjadi masalah kolektif, karena tak hanya melibatkan murid secara individu, tapi juga orang tua, guru, sekolah, bahkan juga pemerintah, sehingga dalam kasus ini modal sosial sepertinya sangat dibutuhkan dalam rangka membentuk karakter para pelajar dan mahasiswa dan mencegah permasalahan semacam ini agar tidak terulang kembali. Tak hanya modal sosial yang dibutuhkan di sini, tapi juga konsep good gevernance, yaitu suatu sinergi antara pemerintah dan masyarakat.

Durkheim menjelaskan bahwa pendidikan merupakan media internalisasi nilai, etika, dan moral untuk menjalankan peran sosial. Sedangkan di tatanan masyarakat industri, pendidikan berfungsi untuk melatih keahlian indvidu agar menjadi produktif dan bermanfaat bagi produksi barang. Pendidikan berperan membentuk generasi muda dan mempengaruhi kehidupan mereka untuk meraih peluang. Keuntungan pendidikan tidak hanya sebagai modal hidup, melainkan juga masuk ke wilayah politik dan isu-isu: ras, collective bargaining, hubungan dengan negara. Pendidikan berada diantara permasalahan Sosial, Ekonomi, Politik, dan pendidikan tidaklah sesederhana sebagai alat produktifitas belaka (human capital). Pendidikan meliputi modal sosial, modal kultural dan modal intelektual, yang kesemuanya adalah modal bagi pembangunan.

Bagi individu, pendidikan akan memberikan keterampilan baru dan kualifikasi yang dibutuhkan untuk pekerjaan maupun pengembangan diri, berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan. Kesehatan, keaktifan, kualitas keluarga, dan kebudayaan tidak terlepas dari tingkat pendidikan yang diperoleh individu. Secara makro, pendidikan akan mempersiapkan perangkat yang mengelola industri dan menciptakan inovasi teknologi, misalnya, penelitian dan pengembangan, merupakan produk pendidikan yang dibutuhkan bagi pembangunan ekonomi. Sedangkan secara mikro, pendidikan akan mengembangkan potensi “intelektualitas modal” , sehingga individu memiliki konsep, strategi dalam persaingan bisnis, dengan pendidikan, kinerja bisnis seseorang akan lebih baik.

Sedangkan bagi negara, pendidikan merupakan modal sosial, modal budaya, dan modal manusia. Sebagai modal sosial pendidikan dapat menjadi perekat sosial, dimana individu yang memiliki standar individu, keluarga, dan komunitasnya dapat memahami dan mengikuti standar universal, sehingga dapat mendorong dan mensosialisasikan individu untuk hidup bersama di masyarakat yang lebih besar. Pendidikan akan mempercepat peleburan sosial (life together).

Sebagai modal manusia, pendidikan selalu mengatasnamakan dan untuk kepentingan produktifitas. Produktifitas hanya bisa dicapai ketika pekerja diberikan pendidikan dan pelatihan dalam berbagai varian kerja yang dibutuhkan.

Sedangkan sebagai modal kultural, pendidikan berperan sebagai internalisasi nilai, keyakinan, ideologi dan perspektif yang dibutuhkan untuk melestarikan kebudayaan. Melalui pendidikan, kebudayaan lokal dan kebudayaan nasional bisa dilestarikan, bahkan dapat menciptakan budaya positif baru yang dibutuhkan bagi pembangunan daerah.

Konsep Modal Sosial

Konsep modal sosial pertama kali dikenalkan pada tahun 1916 dalam suatu artikel yang ditulis oleh L. F. Hanifan, di saat dia membicarakan tentang pusat komunitas yang terkait dengan sekolah di wilayah pedesaan. Hanifan menggunakan istilah modal sosial untuk membicarakan faktor substansi dalam kehidupan masyarakat yang antara lain berupa niat baik (good will), rasa simpati, perasaan persahabatan, dan hubungan sosial yang membentuk sebuah unit sosial. Konsep ini kemudian terus berkembang, dengan berbagai variasi dan tafsir, dan juga digunakan dalam banyak lapangan studi serta penelitian. Menurut Sandra Franke (2005:1), pada tahun 2001, Michael Woolcock telah menghitung sedikitnya tujuh bidang yang telah menggunakan konsep modal sosial ini, yaitu: (1) keluarga dan remaja; (2) pendidikan dan persekolahan; (3) kehidupan komunitas; (4) organisasi dan dunia kerja; (5) pemerintahan dan permasalahan demokrasi; (6) masalah sosial; dan (7) perkembangan ekonomi.

Kemudian istilah modal sosial dipopulerkan oleh James S. Coleman (1990). Pembahasan tentang konsep modal sosial menjadi hangat setelah muncul artikel tulisan Putnam (1993), buku yang ditulis oleh Francis Fukuyama, Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity yang terbit pada tahun 1995 dan The Great Depression: Human Nature and the Reconstitution of Social Order yang diterbitkan pada tahun 2000. Pembahasan menjadi lebih menarik ketika Robert Putnam menulis buku berjudul Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community pada tahun 2000. Selain itu, muncul berbagai artikel jurnal yang membahas topik tersebut dengan mengajukan berbagai pendapat tentang modal sosial.

Semenara itu, Pantota (1999) yang dikutip oleh Hasbullah (2006:33), mengidentifikasi tujuh bentuk atau elemen dari modal sosial, yaitu: (1) keluarga dan kerabat terkait; (2) kehidupan asosiasi yang menyangkut hubungan formal maupun informal secara horisontal; (3) jaringan sosial; (4) masyarakat politik yang menjadi perantara dalam hubungan masyarakat dan negara; (5) institusi dan kerangka kebijakan yang melibatkan aturan formal; (6) norma-norma yang mengatur kehidupan publik; (7) nilai-nilai sosial.

Konsep modal sosial memang memiliki spektrum yang demikian luas, dan karena itu digunakan secara fleksibel mulai dari level individu, keluarga, komunitas, organisasi formal, organisasi sosial informal, kelompok etnik, dan sampai pada level negara (Bankton & Zou, 2002). Sementara menurut kerangka pemikiran yang dikemukaan oleh Bain & Hick (1998), level modal sosial terdiri dari dua: makro dan mikro. Level makro beroperasi pada konteks kelembagaan atau organisasi negara, yang meliputi struktur dan hubungan formal, aturan hukum, rejim politik, desentralisasi, parisipasi dalam perumusan proses dan kebijakan publik. Level mikro beroperasi pada tingkat individual, keluarga, dan komunitas, yang merujuk pada kontribusi potensi dari jaringan sosial serta organisasi horisontal untuk kemanfaatan bersama.

Banyaknya tulisan tentang modal sosial muncul sebagai suatu respon terhadap semakin meregangnya hubungan antar manusia, dan semakin melemahnya ketidakpedulian terhadap sesaman manusia. Kehadiran masyarakat yang menekankan pada kehidupan yang menekankan pada ekonomi yang tertuju pada pertumbuhan telah mengantarkan manusia pada kehancuran. Menurut Fukuyama (2000) transisi masyarakat dari era industri ke era teknologi informasi semakin merenggangkan ikatan sosial dan melahirkan banyaknya patologi sosial seperti meningkatnya angka kriminalitas, kenakalan remaja, dan menurunnya kepercayaan pada sesama komponen masyarakat.

Dalam upaya membangun kehidupan bangsa yang sejahtera, cerdas dalam berkehidupan, dan berkeadilan sosial, peranan modal sosial semakin penting. Banyak konribusi modal sosial untuk kesuksesan suatu masyarakat. Dalam era informasi yang ditandai semakin berkurangnya hubungan langsung (face to face reationship), modal sosial sebagai bagian dari modal maya (virtual capital) akan semakin menonjol peranannya (Ancok, 1998)

Definisi Modal Sosial

Modal sosial adalah sebuah konsep yang rancu dan banyak definisinya. Dalam usaha untuk dapat mengurai dan mengidentifikasi unsur-unsur modal sosial, maka harus dielaborasi terlebih dulu sejumlah definisi dari konsep modal sosial yang sangat bervariasi. Cohen dan Prusak (2001:4) menyatakan bahwa: “Social capital consists of the stock of active connections among people: the trust, mutual understanding, and shared values and behaviors that bind the members of human networks dan communities and make cooperative action possible”. Modal sosial terdiri dari kepercayaan, kesepahaman, serta pertukaran nilai-nilai dan perilaku yang membangun hubungan antar individu dan komunitas yang memingkinkan kerjasama saling menguntungkan.

Hal itu sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh World Bank (1999), bahwa: Social capital refers to the institutions, relationships, and norms that shape the quality and quantity of society’s social interactions. Social capital is not just the sum of the institutions which underpin a society – it is the glue that holds them together”. Modal sosial lebih merujuk kepada dimensi institusional, hubungan sosial, dan norma yang membentuk kualitas dan kuantitas interaksi sosial dalam masyarakat. Namun demikian, modal sosial tidak hanya mencakup sejumlah pranata dan kelompok sosial yang mendukungnya, tapi juga mengakut perekat sosial yang menjaga kesatuan anggota kelompok sebagai suatu kesatuan.

Sementara itu, Bourdieu (1986: 249) menjelaskan bahwa modal sosial merupakan “the aggregate of the actual or potential resources which are linked to possession of a durable network of more or less institutionalized relationships of mutual acquintance and recognition.” Artinya, modal sosial merupakan sumber-sumber potensial atau aktual berupa kualitas hubungan antar anggota komunitas, yang memberikan kepada setiap anggotanya cara dan dukungan modal untuk keuntungan bersama. Dalam semangat yang sama, Coleman (1988) merumuskan konsep modal sosial sebagai suatu struktur hubungan sosial yang memberikan sumber-sumber dan akses bagi anggota komunitas yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama.

Putnam memperluas pengertian sumber-sumber untuk kemanfaatan bersama itu, tidak hanya terbatas pada hubungan sosial dan struktur sosial tetapi pada norma-norma dan sistem nilai. Ia menjelaskan modal sosial sebagai “features of social organization such as networks, norms, and social trust that facilitate coordination and cooperation for mutual benefit” (Putnam, 1993: 197). Hal itu berarti bahwa modal sosial merupakan kepercayaan, norma, dan jaringan sosial yang memudahkan kerjasama untuk keuntungan bersama.

Dapat disimpulkan bahwa modal sosial bukan hanya menyangkut usaha bersama, tetapi juga norma kepercayaan dan relasi timbal balik (resiprokal), yang secara inheren melekat dalam jaringan sosial, untuk memudahkan diatasinya berbagai problema usaha bersama. Hal ini sejalan dengan pandangan Franke (2005), Smith (2001), bahwa konsep modal sosial secara umum berkaitan dengan partisipasi sosial, solidaritas, relasi mutual, kepercayaan, dan jaringan kerjasama dalam dan antar komunitas. Modal sosial juga berkaitan dengan ikatan sosial, kepercayaan, hubungan timbal balik, dan keefektifan pranata sosial.

Pendekatan Dalam Modal Sosial

Pandangan para pakar dalam mendefinisikan konsep modal sosial dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama menekankan pada jaringan hubungan sosial (social network), sedangkan kelompok kedua lebih menekankan pada karakteristik (traits) yang melekat (embedded) pada diri individu manusia yang terlibat dalam sebuah interaksi sosial.

Pendapat kelompok pertama ini diwakili antara lain oleh para pakar berikut. Brehm & Rahn (1997: 999) berpendapat bahwa modal sosial adalah ”jaringan kerjasama di antara warga masyarakat yang memfasilitasi pencarian solusi dari permasalahan yang dihadapi mereka”. Definisi lain dikemukan oleh Pennar (1997: 154) “the web of social relationships that influences individual behavior and thereby affects economic growth”. Jaringan hubungan sosial yang mempengaruhi perilaku individual yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Woolcock (1998: 153) mendefinisikan modal sosial sebagai “the information, trust, and norms of reciprocity inhering in one’s social networks”. Cohen dan Prusak (2001: 3) berpendapat bahwa ”Social capital consists of the stock of active connections among people: the trust, mutual understanding and shared values and behaviours that bind the members of human networks and communities and make cooperative action possible. Modal sosial adalah kumpulan dari hubungan yang aktif di antara manusia: rasa percaya, saling pengertian dan kesamaan nilai dan perilaku yang mengikat anggota dalam sebuah jaringan kerja dan komunitas yang memungkinkan adanya kerjasama.

Pandangan kelompok pertama menekankan pada aspek jaringan hubungan sosial yang diikat oleh kepemilikan informasi, rasa percaya, saling memahami, dan kesamaan nilai, dan saling mendukung. Menurut pandangan kelompok ini modal sosial akan semakin kuat apabila sebuah komunitas atau organisasi memiliki jaringan hubungan kerjasama, baik secara internal komunitas/organisasi, atau hubungan kerjasama yang bersifat antar komunitas/organisasi. Jaringan kerjasama yang sinergistik yang merupakan modal sosial akan memberikan banyak manfaat bagi kehidupan bersama.

Pendapat pakar dari kelompok kedua diwakili antara lain oleh Fukuyama. Fukuyama (1995:10) mendefinisikan modal sosial sebagai berikut: “social capital: the ability of people to work together for common purposes in groups and organizations” . Dengan bahasa yang lain Fukuyama (1997) menjelaskan bahwa “Social capital can be defined simply as the existence of a certain set of informal values or norms shared among members of a group that permit cooperation among them”. Modal sosial adalah serangkaian nilai-nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerjasama di antara mereka. Sejalan dengan pendapat Fukuyama, Bowles & Gintis (2000: 2) mendefinisikan modal sosial sebagai berikut: ”Social capital generally refers to trust, concern for one’s associates, a willingness to live by the norms of one’s community and topunish those who do not”.

Definisi yang dikemukan oleh Fukuyama menurut Djamaludin Ancok (2003) adalah definisi yang melihat modal sosial itu sebagai sesuatu traits (sifat) yang melekat (embedded) pada diri individu yang berupa tata nilai kehidupan dan aturan yang dianut dan dijalankan oleh individu yang memfasilitasi kerjasama yang baik. Menurut pendapat Ancok (2003) definisi yang dikemukakan oleh Fukuyama ini mengandung beberapa aspek nilai (value) yang dikemukakan oleh Schwartz (1994). Ada empat nilai yang sangat erat kaitannya dengan definisi yang dikemukakan oleh Fukuyama, yakni: (1) universalism nilai tentang pemahaman terhadap orang lain, apresiasi, toleransi, dan proteksi terhadap manusia dan makhluk ciptaan Tuhan lainnya; (2) benevolence nilai tentang nilai pemeliharaan dan peningkatan kesejahteraan orang lain; (3) tradition nilai yang mengandung penghargaan, komitmen dan penerimaan terhadap tradisi dan gagasan budaya tradisional; (4) conformity nilai yang terkait dengan pengekangan diri terhadap dorongan dan tindakan yang merugikan orang lain, serta security nilai yang mengandung keselamatan, keharmonisan, kestabilan masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain dan memperlakukan diri sendiri.

Modal sosial pada dasarnya bersumber dari rasa percaya (trust) pada setiap pihak yang terlibat dalam interaksi sosial.

Unsur-unsur Modal Sosial

Sejalan dengan konsep-konsep tentang modal sosial yang telah dirujuk tersebut, maka mengutip padangan dari Putnam (1993, 1995, dan 2002), Fukuyama (1995, 2002), Coleman (1998), Stone & Gughes (2002: 2-6), Francois (2003), Qianhong Fu (2004), Franke (2005: 14-16), Hasbullah (2006: 9-16), secara lebih rinci diuraikan unsur-unsur modal sosial sebagai berikut:

 Unsur-unsur Modal Sosial Kognitif

Kepercayaan (trust) dan relasi mutual (resiprocal). Trust atau perasaan saling percaya adalah suatu bentuk keinginan individu atau kelompok untuk mengambil resiko dalam hubungan-hubungan sosialnya, yang didasari oleh perasaan yakin bahwa pihak yang lain akan melakukan sesuatu seperti yang diharapkan dan akan senantiasa bertindak dalam suatu pola tindakan yang saling mendukung, atau setidak-tidaknya pihak lain tidak akan bertindak merugikan diri dan kelompoknya. Trust adalah sikap saling percaya di masyarakat yang memungkinkan masyarakat tersebut saling bersatu dengan yang lain dan memberikan kontribusi pada peningkatan modal sosial.

Trust ini secara umum terdiri dari tiga tingkatan, yaitu trust pada tingkat individual, tingkatan relasi sosial, dan pada tingkatan sistem sosial. Pada tingkatan individual trust merupakan kekayaan individu, serta merupakan variabel personal dan sekaligus sebagai karakteristik individu. Pada tingkatan hubungan sosial, trust merupakan sikap kolektif untuk mencapai tujuan-tujuan kelompok. Suatu mekanisme sosial yang menyatu dalam relasi sosial. Sedangkan pada tingkatan sistem sosial, trust merupakan nilai publik yang perkembangannya difasiltasi oleh sistem sosial yang ada.

Pada tingkat individual, sumber trust berasal dari kepercayaan agama yang dianut, kompetensi seseorang, dan keterbukaan yang telah menjadi norma di masyarakat. Pada tingkatan komunitas, sumber-sumber trust berasal dari norma sosial yang memang telah melekat pada struktur sosial setempat, terutama dalam kaitannya dengan kepatuhan anggota kelompok pada berbagai kewajiban bersama yang telah menjadi kesepakatan tidak tertulis pada kelompok tersebut. Pada tingkatan institusi sosial, trust akan bersumber dari karakteristik sistem tersebut, yang memberi nilai tinggi pada tanggung jawab sosial pada setiap anggota.

Trust akan kehilangan daya optimalnya ketika mengabaikan salah satu spektrum penting yang ada di dalamnya, yaitu tentang rasa mempercayai (the radius of trust). Pada kelompok, asosiasi, atau bentuk-bentuk grup lainnya yang berorientasi inward looking cenderung memiliki the radius of trust sempit. Kelompok ini kemungkinan akan memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mengembangkan modal sosial yang kuat dan menguntungkan.

Berbagai tindakan kolektif yang didasari atas rasa saling percaya yang tinggi, akan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai ragam bentuk dan dimensi terutama dalam konteks membangung kemajuan bersama. Sebaliknya, kehancuran rasa saling percaya dalam masyarakat akan mengundang hadirnya berbagai problematik sosial yang serius. Masyarakat yang kurang memiliki perasaan saling percaya akan sulit menghindari berbagai situasi kerawanan sosial dan ekonomi yang mengancam. Semangat kolektifitas tenggelam dan partisipasi masyarakat untuk membangun bagi kepentingan kehidupan yang lebih baik akan hilang. Lambat laun akan mendatangkan biaya tinggi bagi pembangunan karena masyarakat cenderung bersikap apatis dan hanya menunggu apa yang akan diberikan oleh pemerintah. Jika rasa saling percaya telah luntur, maka yang akan terjadi adalah sikap-sikap yang menyimpang yang menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku. Kriminalitas akan meningkat, tindakan-tindakan destruktif dan anarkis gampang mencuat, kekerasan dan kerusuhan massa akan cepat tersulut, masyarakat cenderung pasif, mementingkan diri sendiri, dan pada akhirnya muncul perasaan terisolasi dan alienasi diri. Pada situasi yang disebut terakhir ini, masyarakat akan mudah terkena berbagai penyakit kejiwaan seperti kecemasan, sikap putus asa, yang memungkinkan melahirkan tindakan-tindakan yang negatif baik bagi dirinya, masyarakat, maupun negara.

 Pendidikan Kepramukaan

Pendidikan kepramukaan merupakan kelanjutan dari pendidikan kepanduan yang mulai diperkenalkan ke Indonesia oleh P. J. Smith and Major de Jager, penjajah Belanda pada 1912 dengan nama Padvinder. Sejarah pendidikan kepramukaan di Belanda dimulai pada 7 Januari 1911 dengan berdirinya organisasi pramuka pertama dengan nama The Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO, Netherlands Pathfinder Organisation). Hanya setahun setelah berdirinya NPO, Belanda membawa pendidikan kepramukaan di daerah jajahannya, Indonesia (Hindia Belanda).

Gerakan Pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup. Inti dari pendidikan pramuka adalah pendidikan karakter bagi generasi muda Indonesia.

Pendidikan karakter merupakan kebutuhan asasi dalam proses berbangsa dan bernegara. Sejak awal kemerdekaan, bangsa Indonesia sudah bertekad untuk menjadikan pembangunan karakter bangsa sebagai bagian penting dan tidak terpisahkan dari pembangunan nasional.

Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang mengedepankan pendidikan watak dan kepribadian, menumbuhkan semangat jiwa patriotik dan jiwa bela negara, berdasarkan nilai-nilai universal yang terkandung dalam Dasa Darma Pramuka. Sebagai bagian dari pendidikan non formal Indonesia, Gerakan Pramuka mengambil peran besar sebagai wadah pendidikan karakter, untuk menyemai tunas-tunas muda menjadi pemimpin bangsa masa depan. Gerakan Pramuka selalu relevan dengan perkembangan zaman. Gerakan Pramuka, dengan banyak aktivitas positif di dalamnya, memiliki peran konstruktif dalam mencetak generasi muda yang berkarakter kuat (Sambutan Presiden RI pada Hari Pramuka, 14 Agustus 2011). Diharapkan, Gerakan Pramuka mampu menjadi solusi atas permasalahan kaum muda Indonesia dan mampu memberikan kontribusi yang signifikan ada pendidikan di Indonesia.

Pramuka Dalam Pengembangan Modal Sosial

Proses pendidikan pada umumnya bersifat individual, dan kurang menekankan pada belajar kelompok. Selain itu proses pendidikan lebih menekankan pada pengembangan aspek kognitif. Modal sosial adalah adalah bagian dari proses yang tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga bersifat afektif. Modal sosial muncul dari hasil kerjasama antar individu. Oleh karena itu, pembentukan modal sosial hanya bisa dilakukan dengan efektif apabila melibatkan sejumlah orang yang bekerjasama dalam sebuah kelompok. Dalam pendidikan kepramukaan, ada metode patrol system atau sistem beregu.

Salah satu bentuk pelatihan yang efektif adalah kerjasama tim yang dilakukan melalui berdasarkan pengalaman di alam terbuka (nature). Pengalaman melaksanakan outbound management training menunjukkan bahwa kerja sama tim dan antar tim semakin meningkat pada berbagai organisasi yang menggunakan metode tersebut. Maraknya pelatihan yang menggunakan metode di alam terbuka dengan melibatkan belajar dalam kelompok di berbagai organisasi atau perusahaan menunjukkan bahwa metode ini dianggap efektif dalam membangun kerjasama kelompok. Metode-metode tersebut sudah dipakai oleh pramuka sejak 1907 ketika Baden Powell mengajak 12 anak berkemah di Brownsea Island.

Selain itu, berbagai organisasi pendidikan, kepemudaan, dan olahraga menggunakan metode seperti ini di dalam membangun karakter anggotanya. Pengalaman hidup bersama dalam proses pelatihan mampu memupuk pertumbuhan kepribadian yang menjadi pendukung munculnya modal sosial. Pendidikan karakter untuk mengembangkan kepampuan individu agar bisa berinteraksi dengan orang lain juga perlu dilakukan guna meningkatkan modal sosial.

Karakter Kepribadian Modal Sosial Pramuka

Terkait dengan orientasi nilai universalism yang akan meningkatkan modal sosial seseorang, karakter kepribadian berikut ini merupakan karakter kepribadian yang menjadi bagian modal sosial yang terbentuk dari proses pendidikan kepramukaan.

  • Mentalitas berkelimpahan (abundance mentality). Karakter kepribadian mentalitas berkelimpahan dimiliki oleh orang yang suka membagi-bagi apa yang dimiliki kepada orang lain. Orang berkarakter ini selalu merasa bahwa dengan memberikan apa yang dia miliki kepada orang lain akan membuat dia merasa semakin kaya. Karakter demikian adalah lawan dari mentalitas yang pelit (scarcity mentality). Orang yang pelit selalu ketakutan dia tidak akan mendapat sesuatu bila orang lain sudah mendapatkannya (Covey, 1990). “Rela menolong dan tabah” merupakan pernyataan sikap seorang pamuka sebagaimana dasa darma kelima.
  • Ketulusan. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya “Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak”. Seorang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, mencintai alam dan sesama manusia, serta mencintai tanah air dan bangsanya pastilah memiliki karakter yang tulus.
  • Pikiran positif pada orang lain. Orang yang memiliki karakter ini akan melihat orang lain sebagai bagian dari kebahagiaan hidupnya sendiri. Dia selalu melihat sisi positif dari hal-hal yang dilakukan dan dipikirkan oleh orang lain. Bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun, dia bisa melihat dari ‘kacamata’ positif. Covey (1990) menggunakan istilah ‘seek first to understand than to be understood’ (berusaha mengerti orang lain lebih dahulu baru meminta diri sendiri dimengerti). Mereka tidak akan segera menarik kesimpulan tentang apa yang dikatakan orang lain sebelum dia mengerti apa yang dipikirkan oleh orang lain. Orang ini lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dan sebagainya. Lagu pramuka “disini senang, disana senang” menjadi sarana bagi pramuka untuk selalu berfikir positif. Darma Pramuka “suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan” merupakan penyataan bagaimana seorang pramuka harus bersikap.
  • Kemampuan berempati. Karakter ini dimiliki oleh orang yang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Kepekaan perasaan yang dimilikinya membuat mereka mudah merasakan kegembiraan dan kesusahan orang lain. Orang yang tidak memiliki kemampuan berempati biasanya sangat sulit untuk bisa berhubungan baik dengan orang lain. Perasaannya tumpul di dalam memahami kebutuhan orang lain (Goleman, 2002). Empati merupakan karakter yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik mereka selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Mereka selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain. Latihan dan kegiatan pramuka banyak yang melatih anggotanya meningkatkan kemampuan berempati.
  • Komunikasi transformasional. Karakter ini dimiliki oleh orang yang selalu memilih kata-kata yang enak didengar telinga di dalam berbicara pada orang lain. Bila terjadi perbedaan pendapat antara dia dengan orang lain, mereka tetap memilih kata-kata yang menyejukkan hati dan pikiran dalam menanggapi perbedaan tersebut. Sebagai perwujudan darma pramuka “patriot yang sopan dan perwira”, seorang pramuka dilatih dalam bermusyawarah, berargumentasi, dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Penggunaan kaidah berbahasa yang baik dan benar diharapkan bisa meningkatkan tatakrama berkomunikasi, menjadikan komunikasi seorang pramuka menjadi sejuk dan santun.
  • Berorientasi sama sama menang (win-win). Orang yang memiliki sifat win-win dalam interaksinya dengan orang selalu ingin membuat orang lain merasa gembira dan dia juga gembira. Orang yang demikian memiliki rasa respek pada orang lain. Clean, on-time, respect (Core) adalah salah satu nilai yang ditanamkan pada kegiatan-kegiatan kepramukaan seperti jambore dan raimuna.
  • Sifat melayani (serving attitude). Melalui kegiatan kepramukaan, anggotanya dibentuk untuk memiliki karakter ini, yaitu sangat senang melihat orang lain senang dan akan susah apabila orang lain susah. Sifat ini adalah lawan dari sikap egois yang hanya mementingkan diri sendiri, atau golongannya sendiri (Frick & Spears, 1996).
  • Percaya Diri. Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Mereka tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik. Berkemah hakekatnya mengajak pramuka untuk masuk lingkungan dan situasi baru, dan melatih mereka untuk menyesuaikan diri dengannya.
  • Bertanggung Jawab. Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, mereka berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, mereka tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau merasa kecewa dan sakit hati, tidak akan menyalahkan siapapun. Mereka menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya. Darma pramuka kesembilan adalah “bertanggung jawab dan dapat dipercaya”.
  • Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Mereka bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Mereka punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain. Kebiasaan bernyanyi dan bertepuk-tangan bagi pramuka adalah salah satu cara untuk membentuk karakter ceria.
  • Kesetiaan sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Mereka selalu menepati janji, punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.
  • Kerendahan Hati. Rendah hati berbeda dengan rendah diri. Rendah diri merupakan kelemahan, kerendah-hatian justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat mentalnya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.
  • Reward system adalah salah satu metode kepramukaan yang diharapkan bisa menanamkan kebiasaan apresiatif. Orang yang apresiatif suka memberikan apresiasi pada apa yang dilakukan oleh orang lain. Dengan apresiasi yang diberikan pada orang lain membuat orang lain merasa dihargai.

Melalui proses learning by doing, kegiatan-kegiatan pramuka di alam terbuka seperti berkemah dan menjelajah, bakti sosial pramuka, rangkaian latihan dan permainan pramuka diharapkan bisa menanamkan nilai-nilai tersebut. Untuk menenamkan nilai-nilai itu tidak bisa sekedar melalui proses pengajaran pramuka di kelas. Kelasnya pramuka adalah di alam terbuka.

Dengan memiliki nilai-nilai tersebut, diharapkan pramuka bisa ‘membangun’ trust dan network yang merupakan salah satu komponen utama modal sosial.

Leave a Reply

Close Menu