Rasionalisasi Maksiat

Rasionalisasi Maksiat

Disaat pemerintah daerah didukung para ulama dan sebagian besar masyarakat menggusur lokalisasi, ‘membebaskan’ free sex yang tidak free dari daerahnya, seolah menjadi kemenangan gemilang kebenaran. Ketika bu Risma, Walikota Surabaya menutup lokalisasi di Dolly dan sekitarnya, banyak media yang memberitakan dengan keberpihakan pada upaya pemerintah, sehingga berdampak meningkatnya keyakinan dan dukungan masyarakat. Akhirnya, dolly yang ada jauh masa sebelum saya lahir pun sukses ditutup. Walaupun tidak sedikit sosiolog yang mengkhawatirkan efek penutupan ini, termasuk sebagian pejabat pemerintah yang dulunya bertugas mengendalikan penyakit menular sex di lokalisasi. Usaha pemerintah didukung pemberitaan media, sukses melakukan pekerjaan besar yang tidak pernah sukses sebelumnya.

Saat ini usaha serupa dilakukan kembali oleh Pemda DKI dengan menutup Kalijodo yang kabarnya sebagian tempat juga menjadi lokalisasi pezina profesional. Jauh sebelumnya Kramat Tunggak sudah sukses ditutup untuk selamanya, walaupun akhirnya praktek itu berpindah dan bermertamorfosis dalam bentuk lain. Media pun memberitakan hal yang sama seperti di Surabaya, memberikan dukungan dan harapan bagi kelompok kebenaran.

Melihat fenomena dukungan media atas penutupan lokalisasi, membawa kesan yang cukup mendalam, bahwa media mempunyai peran dominan membentuk opini masyarakat sehingga program tersebut sukses besar, sehingga menjadi fenomena kembali yang layak untuk dikaji lebih mendalam. Saya berpendapat, media massa lebih agamis.

Namun di halaman 8 Koran Jawa Pos pada tanggal 22 Februari 2016 memuat tulisan yang berjudul “Fenomena Brondong-Mamah Angkat di Jakarta, Bagi sebagian Orang Sudah Jadi Gaya Hidup” yang ditulis oleh wartawan dengan inisial kar/c9/ano, pikiran saya tentang media jadi berubah. Para tulisan itu menyebutkan pendapat seksolog Zoya Amirin bahwa fenomena tersebut sudah marak terjadi. Fenomena yang dimaksud adalah tante-tante nakal yang saat ini sebutannya dihaluskan dengan istilah mama angkat, yang ‘memelihara’ brondong (sebutan bagi pezina profesional berkelamin lelaki) untuk memenuhi kebutuhan birahinya.

Yang lebih mengejutkan, di akhir tulisan yang seolah menjadi kesimpulan dan saran bagi pembaca parental guidance, mengajak masyarakat untuk tidak menilai buruk fenomena itu. Tulisan lengkapnya, “Seksolog lulusan psikologi klinis Universita Indonesia tersebut juga menjelaskan, dalam menanggapi fenomena seperti itu, masyarakat sebaiknya tidak menilai buruk. Sebab, hal tersebut sekarang bahkan sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang”.

Lebih terbelalak lagi ketika saya melanjutkan membaca paragram terakhir, “Cara menyikapinya, lanjut Zoya, adalah bersikap wajar dan tidak begitu mencampuri urusannya. Lagi pula, buat apa diurusi? Mereka toh melakukan itu dengan tidak merugikan siapa pun. “Anggap biasa saja”, tutur Zoya santai”.

Pertanyaan saya, apa benar hal itu tidak merugikan? Apa bedanya dengan praktik lokalisasi di Dolly? Apakah karena prostitusi di Dolly dan Kalijodo untuk kalangan menengah kebawah dan tidak elit, sehingga media mendukung menutupnya? Apa karena fenomena brondong-mamah itu high class sehingga disosialisasikan ‘kebenaran’nya? Atau mungkinkah komunitas itu membiayai propagandanya? Atau mungkinkah para pelanggan dan suplier Dolly dan Kalijodo tidak mampu ‘membayar’ berita untuk mempertahankan opininya? Siapakah sebenarnya Zoya Amirin?

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan ‘liar’ yang ada dibenak saya untuk merefleksikan fenomena sosial dan ‘fenomena media’ ini. Pertanyaan yang menjadi sebab untuk pencarian kebenaran sesungguhnya. Kembali membaca sejarah kehancuran bangsa kaum sodom dan gomora, mencoba memahami realitas sosial pada masa itu dan menyandingkan dengan fenomena saat ini. Zina dan segala bentuk turunan dan diversifikasinya, zina dengan segala macam penyebutannya, merupakan hal yang rasional untuk dilakukan. Selalu ada rasionalisasi untuk segala hal urusan, baik itu salah ataupun benar. Kalau yang dijadikan acuan adalah rasional, maka selalu ada rasionalisasi pembenarannya. Rasional saja tidak cukup, manusia perlu nilai (value) dalam hidupnya supaya sempurna. Nilai itu ada pada iman. Walau iman sebagian orang (termasuk saya) timbul tenggelam, setidaknya ada yang dipegang.

Leave a Reply

Close Menu